Daerah

Partikulat Udara Palu Naik Jadi 179 Mikrogram, Warga Diimbau Batasi Aktivitas Luar

sekitarpalu
411 views
Bagikan berita Bantu sebarkan informasi ini kepada pembaca lainnya.
PALU - Konsentrasi partikulat di udara Kota Palu meningkat dari 162 mikrogram per meter kubik pada 11 Oktober menjadi 179 mikrogram per meter kubik pada 12 Oktober 2026. Peningkatan yang berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini membuat masyarakat perlu mewaspadai kondisi kualitas udara.

Ketua Tim Layanan Publik dan Humas BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Muh. Soeharto Dwi Putra Rahman, mengatakan data tersebut merupakan hasil pengamatan terakhir yang tersedia. Hingga Selasa (13/10), belum ada pembaruan hasil pengamatan konsentrasi polutan di Kota Palu.

“Untuk update terkait konsentrasi polutan udara di Kota Palu sendiri per hari ini belum ada pengamatan, jadi kita berdasarkan kemarin,” kata Soeharto saat diwawancarai, Selasa (13/10).

Ia menjelaskan, peningkatan konsentrasi partikulat berkaitan dengan asap karhutla dari sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah maupun provinsi tetangga. Asap tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya polutan di udara Kota Palu.

Menurut Soeharto, kondisi kualitas udara di Palu mulai menunjukkan kategori tidak sehat sejak Juni 2026, meskipun hanya berlangsung selama beberapa hari. Kondisi tersebut kemudian mengalami peningkatan yang lebih signifikan pada Agustus, September, hingga Oktober.

Berdasarkan kondisi pemantauan terakhir, konsentrasi partikulat pada 13 Oktober diperkirakan masih berpotensi bertahan atau meningkat hingga keesokan harinya. Namun, perkembangan tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui hasil pengamatan terbaru.

“Belum ada faktor yang signifikan untuk menurunkan konsentrasi partikulat tersebut. Kita berharap ada hujan ataupun proses pemadaman karhutla, titik-titik panas itu dapat segera diselesaikan,” ujarnya.

Dampak kondisi atmosfer tersebut juga dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Soeharto menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterima BMKG dari BPBD Tojo Una-Una, gangguan jarak pandang sempat dialami nelayan yang kembali dari melaut menuju daratan.

Kondisi kualitas udara yang memburuk perlu diwaspadai, terutama oleh kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang rentan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Kami dari BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Apabila terpaksa beraktivitas di luar ruangan, dapat menggunakan masker sesuai standar,” tutupnya.

REDAKSI SEKITAR PALU
Ruang pembaca

Komentar (0)

Belum ada komentar Jadilah pembaca pertama yang memberikan tanggapan.