Bank Indonesia Dorong Ekonomi Hijau untuk Hadapi Risiko Perubahan Iklim
PALU – Bank Indonesia (BI) mendorong penerapan ekonomi dan keuangan hijau sebagai langkah menghadapi berbagai risiko perubahan iklim yang dinilai dapat berdampak pada perekonomian dan sistem keuangan.
Hal itu disampaikan Freddy Firmansyah, Analis Kelompok Pengembangan Ekonomi Hijau, Grup Ekonomi Keuangan Hijau, Departemen Ekonomi Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, dalam kegiatan Posalia Sulteng Digifest hari kedua, Rabu (12/8/2026).
Freddy menjelaskan, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi menjadi bagian dari triple planetary crisis yang semakin berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Menurutnya, risiko tersebut juga dapat memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi.
“Risiko itu sebenarnya ada dua. Pertama risiko fisik, kemudian ada namanya risiko transisi,” kata Freddy.
Ia menjelaskan, risiko fisik dapat berupa kenaikan permukaan laut yang berdampak terhadap bangunan maupun aktivitas masyarakat. Sementara risiko transisi muncul ketika terjadi perubahan menuju ekonomi yang lebih hijau, termasuk perubahan regulasi yang dapat membuat aset tertentu tidak lagi optimal digunakan.
Dampak perubahan iklim juga dapat dirasakan pada sektor pertanian. Kondisi yang menyulitkan petani dalam memproduksi hasil pertanian berpotensi meningkatkan harga komoditas dan pangan, sehingga turut meningkatkan risiko inflasi.
Freddy menyebut Indonesia juga masih memiliki ketergantungan terhadap komoditas yang bersifat ekstraktif. Komoditas ekspor utama seperti bahan bakar mineral, minyak nabati, serta besi dan baja dinilai menunjukkan masih kuatnya ketergantungan tersebut.
“Jadi bicara tentang berkelanjutan di sini, BI itu tidak bergerak sendiri,” ujarnya.
Menurut Freddy, Bank Indonesia bersama kementerian dan regulator terkait terus mendorong penerapan keuangan berkelanjutan. Salah satunya melalui kebijakan yang mendorong perbankan memperhatikan dampak emisi karbon dari penyaluran kredit kepada sektor usaha.
BI juga telah menerapkan sejumlah kebijakan untuk mendorong pembiayaan hijau, termasuk insentif bagi pembiayaan kendaraan listrik dan rumah yang memenuhi standar bangunan hijau.
Selain kebijakan pembiayaan, BI turut mendukung pelaku usaha yang menerapkan praktik hijau melalui pembiayaan, promosi, hingga perluasan akses pasar.
BI juga menyediakan alat yang dapat digunakan untuk membantu menghitung emisi dari proses bisnis maupun aktivitas sehari-hari.
Freddy menekankan pentingnya penerapan ekonomi hijau tidak berhenti pada konsep, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembicaraan yang terakhir ini sedang mengajak kita untuk from concept to reality, dari sekadar berpikir tentang konsep sampai kepada apa yang harus kita lakukan bersama-sama,” pungkasnya. (NW)








