Menolak Lupa! Sebelum Tsunami Palu 2018, Tsunami 10 Meter Pernah Menyapu Pesisir Tambu-Donggala pada 1968

PALU – Sebelum bencana gempa dan tsunami melanda Palu dan Donggala pada 2018, Sulawesi Tengah pernah mengalami tragedi serupa yang menelan banyak korban jiwa.

Pada 14 Agustus 1968, gempa tektonik berkekuatan magnitudo (Mw) 7,3 mengguncang kawasan Tambu, Balaesang, dan Donggala. Gempa yang berpusat di lepas pantai barat laut Pulau Sulawesi itu kemudian memicu tsunami yang menerjang wilayah pesisir.

Pakar gempa dan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mencatat tsunami tersebut terjadi hanya beberapa menit setelah gempa dengan ketinggian gelombang mencapai 9 hingga 10 meter.

Gelombang tsunami menerjang pesisir Donggala dan sekitarnya, nyaris tanpa memberikan waktu bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri. Air laut bahkan menerobos daratan hingga sekitar 500 meter dari garis pantai.

Menurut catatan Daryono, tsunami menghancurkan permukiman pesisir, terutama di kawasan Tambu dan Mapaga yang mengalami kerusakan serta kehilangan jiwa cukup parah.

Tragedi tersebut menewaskan 200 orang, sementara 58 orang mengalami luka-luka dan 40 orang lainnya dinyatakan hilang.

Sedikitnya 800 bangunan rumah di kawasan pesisir juga hancur akibat terjangan gelombang tsunami.

Kisah memilukan juga terjadi di Pulau Toguan, lepas pantai Balaesang. Tim penolong dan relawan yang dikirim melintasi Selat Makassar dari Tanjung Mangkalihat, Kalimantan Timur, datang untuk mencari para penyintas.

Namun, setibanya di Pulau Toguan, tim penolong disebut tidak menemukan satu pun penduduk yang selamat. Seluruh permukiman di pulau tersebut telah tersapu dan luluh lantak diterjang tsunami.

Dari sisi seismologi dan geologi, Daryono menjelaskan tragedi 1968 berkaitan dengan aktivitas tektonik aktif di kawasan Sulawesi Tengah, termasuk sistem Sesar Palu-Koro dan struktur patahan di lepas pantai pesisir barat Sulawesi Tengah.

Pergeseran mendadak pada struktur batuan dasar laut menyebabkan deformasi vertikal yang memindahkan volume air laut dalam jumlah besar. Kondisi garis pantai dan topografi setempat juga turut memperkuat ketinggian gelombang tsunami saat mencapai daratan.

Menurut Daryono, mengingat kembali tragedi 14 Agustus 1968 penting untuk menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap ancaman bencana di wilayah pesisir Sulawesi Tengah.

Ia menekankan bahwa pengalaman bencana masa lalu dapat menjadi pembelajaran untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

“Mengingat bencana masa lalu bukanlah untuk memelihara trauma, melainkan untuk membangun ketangguhan generasi mendatang. Sejarah adalah panduan mitigasi terbaik,” tulis Daryono dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @daryono_edukator_kebencanaan, Jumat (14/8/2026).

Dalam unggahan tersebut, Daryono juga mengingatkan bahwa setiap gempa kuat yang dirasakan masyarakat di wilayah pesisir harus menjadi peringatan untuk segera menyelamatkan diri dengan menuju tempat yang lebih tinggi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup