BMKG Keluarkan Peringatan Dini Potensi Karhutla Sulteng, Warga Diminta Tak Bakar Lahan dan Segera Lapor Jika Ada Api

PALU – BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tengah.

Peringatan tersebut berlaku selama tujuh hari, yakni 30 Agustus hingga 5 September 2026. Laporan mengenai potensi karhutla tersebut dirilis pada Sabtu (29/8/2026).

Berdasarkan hasil analisis Fire Danger Rating System (FDRS), potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sulteng berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi.

Analisis tersebut menggunakan parameter Fine Fuel Moisture Code (FFMC) untuk melihat tingkat kemudahan terbakar bahan bakar ringan di permukaan tanah, serta Fire Weather Index (FWI) untuk menunjukkan besarnya intensitas api apabila terjadi kebakaran.

Kepala Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Taufiq Hidayah, menyebut kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko tersebut.

“Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan rendah, serta angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api jika terjadi kebakaran,” jelasnya.

Atas kondisi itu, BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu meminta masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah pencegahan.

Masyarakat diimbau tidak membakar lahan, semak belukar, maupun sampah, khususnya ketika kondisi cuaca kering dan berangin. Jika menemukan asap atau api di sekitar permukiman maupun kawasan hutan, warga diminta segera melaporkannya kepada perangkat desa, petugas keamanan, atau BPBD setempat.

Warga juga disarankan membersihkan lingkungan dari bahan yang mudah terbakar, seperti kayu, jerami, dan sampah kering. Jalur pemisah atau sekat di sekitar permukiman dapat dibuat dengan membersihkan ilalang dan semak.

Selain itu, masyarakat diminta menyediakan cadangan air di rumah atau lingkungan untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran kecil serta mengikuti arahan petugas dan pemerintah jika diperlukan tindakan pencegahan atau evakuasi.

BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah dan pemangku kepentingan. Di antaranya mengaktifkan posko siaga karhutla di tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan serta menyiagakan petugas pemantauan lapangan secara bergilir selama 24 jam.

Koordinasi antara BPBD, TNI/Polri, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, dan relawan juga diminta diperkuat. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla dan larangan membuka lahan dengan cara dibakar perlu dilakukan secara intensif.

Patroli terpadu di wilayah rawan juga perlu ditingkatkan, terutama pada siang hingga sore hari. BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu merekomendasikan pemanfaatan drone atau kamera pengawas untuk membantu mendeteksi titik panas (hotspot) sejak dini.

Dari sisi kesiapan pemadaman, pemerintah diminta memastikan ketersediaan pompa air, tangki air, APAR, dan perlengkapan petugas. Pos air serta sekat bakar (firebreak) juga perlu disiapkan di wilayah yang rawan kebakaran.

BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu turut merekomendasikan penyediaan nomor pengaduan darurat yang aktif 24 jam untuk mempercepat respons terhadap laporan asap maupun api.

“Kami sangat berharap agar seluruh pihak dapat bekerja sama dan bergerak cepat dalam menghadapi potensi karhutla ini. Kewaspadaan dan tindakan preventif merupakan kunci utama untuk menghindari kerugian jiwa, harta, dan lingkungan,” demikian disampaikan dalam laporan BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup