BMKG: Sebagian Wilayah Sulawesi Masuki Puncak Kemarau 2026, El Nino Berpotensi Bertahan hingga Awal 2027
PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau 2026, seiring fenomena El Nino yang diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027 dengan peluang mencapai kategori sangat kuat sebesar 75 persen.
Berdasarkan analisis BMKG, kondisi tersebut berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia hingga sedikitnya Oktober 2026, termasuk sejumlah daerah di Pulau Sulawesi yang diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada periode Juli hingga September.
BMKG mencatat, pada Juli 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sulawesi Barat bagian utara dan Sulawesi Tengah bagian barat. Memasuki Agustus, wilayah terdampak meluas ke sebagian besar Pulau Sulawesi, sedangkan pada September puncak kemarau diperkirakan masih berlangsung di sebagian besar wilayah Sulawesi.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan lembaganya terus memperbarui prakiraan iklim serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, Forkopimda, dan berbagai pemangku kepentingan guna meminimalkan dampak musim kemarau.
“BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait agar memiliki informasi yang lebih rinci mengenai langkah mitigasi dan adaptasi terhadap kondisi iklim saat ini,” kata Faisal.
BMKG juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan kalender tanam dan menggunakan varietas tanaman yang hemat air serta tahan kekeringan. Pengelola sumber daya air diimbau mengoptimalkan cadangan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
Di sektor energi, pengelola pembangkit listrik tenaga air (PLTA) diminta memastikan kapasitas air bendungan tetap mencukupi agar operasional pembangkit tidak terganggu. Sementara di bidang kesehatan, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi penurunan kualitas udara yang dapat memicu meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui pemantauan dini, patroli terpadu, serta respons cepat terhadap potensi titik api selama periode kemarau.
Masyarakat di wilayah Sulawesi diimbau terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG, mengingat prakiraan dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan perkembangan fenomena iklim global.








